Tampilkan postingan dengan label Tips tabulampot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips tabulampot. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 September 2018

Cara merawat buah tin dalam pot

Negara agraris, Indonesia memiliki lahan yang subur serta iklim yang mendukung untuk bercocok-tanam. Berbagai macam tanaman bisa tumbuh subur di Indonesia, tak terkecuali tanaman dari luar sekalipun. Salah satu yang bisa dicoba adalah budidaya buah tin.
Buah Tin atau buah Ara juga salah satu tanaman yang memiliki potensi yang tinggi adalah cukup tinggi, apalagi jika berbicara mengenai manfaat buah Tin sendiri, segudang manfaat ada di dalamnya. Menurut hasil penelitian California Fig-s Advisory, kandungan nutrisi pada setiap 100 g buah Tin meliputiEnergi 250 kcal 1040 kJ, Karbohidrat 63.87 g, Lemak 0.93 g, Protein 3.30 g, Gula 47.92 g, Folat (Vit. B9) 9 μg 2%, Vitamin C 1.2 mg 2%, Zinc 0.55 mg 6%, Kalsium 162 mg 16%, Riboflavin (Vit. B2) 0.082 mg 5%, Pantothenic acid (B5) 0.434 mg 9%, Vitamin B6 0.106 mg 8% dll. Saking banyaknya kandungan nutrisi didalamnya, buah Tin dijuluki buah super nutrition oleh para ahli.
Harga buah Tin di pasaran yang cukup tinggi membuat banyak masyarakat yang ingin menanam pohon tin di sendiri. Bagaimana tidak, harga untuk 100 gram buah tin kering saja bisa mencapai 50rb per 100 gramnya. Hal inti tentu tak lepas dari minimnya buah Tin di pasaran, kebanyakan buah Tin yang beredar saat ini adalah hasil impor dari luar negeri.
Cara budidaya buah tin sebenarnya bukan sesuatu yang sulit, bahkan bisa dikatakan tergolong mudah. Kita bahkan bisa menanam buah tin di tempat sempit seperti pekarangan rumah. Untuk menanam buah tin sendiri, teknik yang banyak digunakan adalah menggunakan teknik cangkok layaknya menanam ketela pohon.
Hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit adalah pilihlah batang buah tin yang masih muda dan berkulit hijau karena akan membuat proses perakaran lebih cepat dan banyak.
Setelah bibit pohon tin siap, hal yang harus disiapkan tentunya adalah media tanam. Kesuksesan budidaya buah tin ada pada unsur kesuburan media tanam baik secara fisik, kimia maupun biologis.
Tanah yang harus disiapkan harus remah, gembur dan porous, yakni tanah yang ketika disiram air maka akan cepat meresap kedalamnya. Untuk mencukupi kebutuhan tiga hal diatas, kita perlu menyediakan media tanam yang terbuat dari sekam atau arang sekam dan pupuk kandang.
Waktu yang paling tepat untu menanam pohon tin adalah pada waktu sore hari, hal ini karena kondisi udara sore hari yang cenderung sejuk sehingga pengakaran akan bekerja dengan baik hingga esok hari tanpa diganggu proses penguapan.
  • Siapkan pot atau polybag yang disisi dengan tanah sebanyak 1/3 bagian pot/ polybag.
  • Masukkan bibit perbanyakan (cangkok) pada media tersebut. Hal yang perlu diperhatikan adalah tata letak dari bibit, pastikan bibit terletak pada posisi tengah dengan tegak.
  • Padatkan media sekeliling tanaman.
  • Siram dengan air hingga meresap sampai kebagian bawah pot.
Jika sudah selesai, letakkan tanaman pada tempat yang teduh hingga pohon tin benar-benar siap dipindah pada area budidaya.
Selanjutnya adalah proses merawat pohon tin. Perawatan pohon tin sebenarnya tergolong sederhana, yakni dengan cara melakukan penyiraman secara teratur pada pagi dan sore hari. Selain pernyiraman, pastikan area tanam terbebas dari tumbuhan lain seperti rumput. Untuk urusan pemupukan, dapat dilakukan ketika usia pohon tin sekitar 4 bulan dari penanaman awal.

Cukup sekian artikel dari saya semoga bermanfaat bagi kita semua, dan jika ingin berkonsultasi lebih mendalam tentang cara budidaya buah tin dalam pot  Silahkan klik https://wa.me/6285842045609 atau bisa langsung via : 082248073089 (Telepon)

085713243364 (WhatsApp)

Senin, 24 September 2018

Cara membuat media tanam


Salah satu topik yang paling sering ditanyakan oleh pembaca blog ini yang menelepon atau mengirim email ke saya adalah bagaimana cara membuat media tanam untuk tabulampot ?, beberapa di antara mereka mengeluhkan problem pertumbuhan tanaman yang sangat lambat, tanaman yang terlalu cepat layu meski sering disiram, media tanam yang mengeras meski sering didangir, dan sebagainya.
Jika hal ini ditanyakan ke nursery tempat orang biasanya memperoleh sarana untuk menanan dan berkebun, maka jawaban tiap nursery akan berbeda-beda, karena mereka mempunyai kebiasaan sendiri untuk memformulasi media tanam untuk tanaman yang mereka jual, di sisi lain komposisi media tanam tersebut tentu saja akan berbeda antara untuk tanaman yang dikoleksi sendiri dengan tanaman yang dipajang untuk dijual. Media tanam untuk tanaman yang akan dijual biasanya dibuat seringan mungkin dengan mengurangi jumlah tanah dan memperbanyak proporsi bahan lainnya seperti sekam, cocopeat,cocofibercocoblock, kompos kasar dedaunan, serbuk arang, pecahan arang, serbuk kayu hasil gergajian, serta serasah tanaman (cincangan akar, ranting, dan daun). Tujuannya tentu saja adalah efisiensi untuk menekan biaya per satuan jumlah bibit serta memperingan bobot tanaman secara keseluruhan agar memudahkan dalam proses pengiriman ke tempat atau daerah yang jauh, bahkan pengiriman antar pulau.
Media tanam tabulampot sebaiknya harus dilihat dalam konteks bahwa media tanam harus bisa memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sehingga pada akhirnya media tanam harus bisa memberikan dukungan secara fisik, kimia, maupun biologis. Dukungan fisik adalah kemampuan media tanam dalam memberikan ruang tumbuh optimal bagi akar, menyediakan proporsi pori makro bagi penyediaan air/lengas tanah serta proporsi pori makro bagi penyediaan oksigen untuk pernafasan akar. Keadaan ideal seperti ini hanya bisa terjadi jika dilakukan modifikasi terhadap struktur tanah. Struktur mampat pada tanah harus dimodifikasi agar struktur menjadi lebih remah (crumb), sementara struktur tanah lepas harus dimodifikasi juga agar menjadi lebih remah sehingga bisa “dipegang” oleh akar tanaman. Secara kimiawi, media tanam juga harus memberikan dukungan dengan kemampuaannya menerima, mengikat dan melepaskan unsur hara alami yang dikandungnya maupun penambahan unsur hara yang diberikan dalam bentuk pupuk, baik organik maupun anorganik. Dan yang terakhir adalah dukungan biologis media tanam yang diwujudkan dalam bentuk tersedianya ruang tumbuh yang optimal bagi kehidupan mikrobia-mikrobia tanah untuk menjalankan aktifitas kehidupan dalam membongkar bahan atau senyawa organik di dalam media tanam. Hasil akhir dekomposisi bahan atau senyawa organik adalah berupa hara-hara yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Jika melihat ukuran pot yang terbatas, media tanam harus dibuat subur secara fisik, subur secara kimia dan tentu saja subur secara biologis agar keterbatasan volume dalam pot tersebut mampu memberikan dukungan optimal bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Ketiga kesuburan tersebut bisa diperoleh dengan memodifikasi media tanam dengan mencampurkan beberapa bahan dengan proporsi tertentu. Berdasarkan pengalaman, saya biasa membuat media tanam dengan 3 bahan utama, yakni tanah, pupuk kandang, dan sekam padi.
Di Indonesia yang beriklim tropis, variasi jenis tanah menjadi sangat banyak dengan kandungan fraksi tanah dan tingkat kesuburan yang berbeda. Fraksi penyusun tanah terdiri dari fraksi lempung yang bersifat liat (sehingga sering disebut sebagai tanah liat), fraksi debu yang mudah terdispersi oleh air, serta fraksi pasir pada tanah-tanah yang berdekatan dengan gunung berapi aktif. Kandungan fraksi lempung, fraksi debu, dan fraksi pasir pada setiap jenis tanah tentu saja berbeda-beda. Ada jenis tanah yang dominan berisi fraksi lempung (biasanya berwarna hitam, kehitaman, merah, merah kecoklatan), dominan berisi fraksi debu (berwarna coklat muda, coklat kekuningan), serta tanah dengan fraksi pasir yang dominan (berwarna hitam keabuan). Dari beragam jenis tanah yang berbeda-beda kandungan fraksi penyusun tanahnya, ditemukan beberapa jenis tanah dengan komposisi lempung, debu, dan pasir yang seimbang. Tanah –tanah dengan komposisi seimbang ini relatif lebih mudah jika dijadikan campuran media tanam, namun ketersediaannya hanya terbatas di daerah-daerah tertentu saja. Yang paling mudah adalah menggunakan tanah setempat yang berasal dari daerah sekitar tempat tinggal kita. Sebagai panduan sederhana, gunakan panduan warna tanah yang ada di sekitar kita untuk melihat tingkat kesuburannya secara visual. Semakin tua warna tanah maka semakin tinggi tingkat kesuburan kimianya karena tanah-tanah tersebut tergolong tanah yang sudah mengalami perkembangan yang lanjut selama jutaan tahun, demikian pula sebaliknya.
Pupuk kandang sebagai komponen kedua bisa diperoleh dari kotoran ternak seperti sapi, kerbau, kuda, kambing, domba, maupun kelinci. Kotoran ternak unggas tidak direkomendasikan untuk digunakan sebagai komponen pencampuran karena sifatnya yang gampang sekali memadat dan membuat media tanam menjadi keras saat media tanam kekurangan air dalam waktu panjang. Kotoran dari ternak unggas hanya disarankan untuk diberikan sebagai penutup (topping) pada bagian atas media tanam, itupun dalam jumlah yang terbatas. Gunakan pupuk kandang yang sudah terurai (matang) secara alami dari kandang ternak atau pupuk kandang yang sengaja difermentasikan (didekomposisikan) menggunakan mikrobia pengurai (decomposer) yang lazim dibuat oleh peternakan besar untuk memanfaatkan kotoran ternak sebagai hasil samping. Pupuk kandang yang matang secara alami (dalam jangka waktu relatif lama) maupun yang sengaja didekomposisikan (dalam jangka waktu singkat) mempunyai rasio Carbon/Nitrogen rendah, kurang dari 20, sementara kotoran ternak segar pada umumnya mempunyai rasio C/N lebih dari 40. Semakin tinggi rasio C/N, semakin berbahaya penggunaan pupuk kandang tersebut bagi tanaman karena pada kondisi tersebut, proses dekomposisi pupuk kandang masih berlangsung, Bakteri menguraikan carbon dari dalam pupuk kandang  dengan mengambil nitrogen sebagai sumber energi utamanya. Jika pupuk kandang masih segar atau setengah matang digunakan sebagai bahan pencampur media tanam, maka dalam proses dekomposisi yang masih berlangsung tersebut, bakteri pengurai akan menggunakan semua nitrogen yang terkandung dari dalam pupuk kandang, serta mengambil nitrogen dari sumber-sumber lainnya, yaitu dari campuran tanah di dalam media tanam. Sementara jika proses dekomposisi belum juga selesai, maka bakteri pengurai akan mengambil nitrogen dari dalam tanaman sehingga nitrogen akan keluar dari dalam sel-sel, dimulai dari sel-sel daun pada bagian ujung tanaman. Keluarnya nitrogen dari dalam sel ini disebut dengan istilah plasmolisis yang menimbulkan gejala seperti daun terbakar (burning) di bagian tepi menuju ke bagian tengah daun. Itu sebabnya, sebagian orang memberi istilah “pupuk panas” untuk menjelaskan fenomena tersebut. Dalam kondisi parah, tanaman akan mengering dan mati total karena hampir semua sel-sel tanaman mengalami plasmolisis, sementara pada kondisi ringan hingga sedang, daun yang terbakar akan gugur, namun tanaman akan pulih dengan memunculkan tunas-tunas baru kembali, meski proses pemulihannya akan berlangsung cukup lama. Jika menggunakan pupuk kandang yang dibeli, pastikan bahwa pupuk kandang tersebut tidak berbau, berwarna coklat kehitaman, serta remah dengan kandungan kadar air yang cukup rendah. Jika pupuk tersebut dijual dalam kemasan plastik, pastikan bahwa di labelnya tertera angka rasio C/N kurang dari 20. Penggunaan pupuk kandang pada media tanam bertujuan untuk memperbaiki sifat fisik media tanam dengan mengubah struktur tanah berat menjadi lebih remah, sementara pada tanah-tanah ringan, pupuk kandang berfungsi untuk mengikat fraksi penyusun tanah yang mudah terpecah, menjadi bentuk dengan struktur yang lebih kuat. Hasil dekomposisi pupuk kandang mampu memasok hampir semua unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, dan pemberian pupuk kandang pada media tanam berarti memperkaya kandungan mikrobia yang bermanfaat pula bagi tanaman. Kandungan hara yang terkandung pada pupuk kandang bervariasi dari daerah dan waktu yang berbeda, jenis ternak serta ransum atau pakan yang dikonsumsi oleh ternak, namun perbedaan kandungan haranya kurang nyata, umumnya berada dalam kisaran yang hampir sama.
Komponen ketiga adalah sekam padi yang banyak sekali terdapat di seluruh penjuru tanah air, khususnya di sentra-sentra produksi padi. Sebagai bahan organik yang cukup lambat urai, sekam adalah pilihan terbaik sebagai salah satu komponen penyusun media tanam tabulampot, terlebih jika dikaitkan dengan ketersediaannya yang melimpah, harga yang relative sangat murah, dan penggunaannya dalam media tanam menyebabkan total berat media tanam menjadi lebih ringan sehingga selain berfungsi untuk menunjang pertumbuhan tananam, tabulampot juga menjadi lebih mudah dipindah-pindahkan sesuai dengan kebutuhan. Penambahan sekam padi pada media tanam tabulampot lebih berujuan untuk memperbaiki porositas (kemampuan meneruskan air) sekaligus memodifikasi jumlah pori makro maupun pori mikro dalam media tanam. Modifikasi pori ini adalah wujud akhir dari kombinasi antara jenis tanah, jumlah pupuk kandang, serta jumlah sekam yang digunakan untuk membuat media tanam, semakin berat tanah yang digunakan maka semakin banyak jumlah sekam yang digunakan, demikian sebaliknya. Sekam segar relatif lebih mudah didapatkan dibanding sekam bakar yang memerlukan pengolahan lebih lanjut. Hindari penggunaan sekam yang berasal dari pengolahan padi yang belum lama dipanen karena pada umumnya masih mengandung biji padi yang lolos dari proses penggilingan, dan jika sekam ini digunakan sebagai campuran media tanam akan memunculkan banyak tunas-tunas padi yang akan berkecambah beberapa hari setelah sekam digunakan. Selain itu, sekam baru ini umumnya masih mengandung banyak pecahan beras yang jika berada dalam kondisi basah di dalam media tanam akan menjadi substrat bagi pertumbuhan jamur. Contoh sederhana adalah saat merobek polybag tanaman yang hendak di-repotting, sering terlihat miselia jamur berwarna putih di bagian bawah atau samping media tanam yang diselubungi oleh akar. Pilih sekam yang berwarna agak kusam sebagai tanda bahwa sekam tersebut berasal dari proses penggilingan padi yang sudah lama. Jika sekam bakar tersedia dalam jumlah banyak, kombinasikan sekam segar dan sekam bakar sebagai bahan campuran, dan untuk mendukung estetika tabulampot, sekam bakar yang dicampur pupuk kandang halus dapat digunakan sebagi topping setebal 2-3 cm pada bagian atas media tanam. Topping tabulampot seperti ini akan terlihat lebih bagus dan rapi dibanding topping yang terbuat dari sekam segar. Namun terkadang ketersediaan sekam bakar relatif lebih sulit karena dibutuhkan proses tambahan untuk mengubah sekam segar menjadi sekam bakar, maka untuk topping dapat dibuat dengan menaburkan pupuk kandang halus secukupnya di bagian atas media tanam. Sekam bakar sendiri sebenarnya adalah arang sekam yang dibuat dari sekam segar dengan proses sederhana, Tidak ada keunggulan nyata jika membandingkan sekam bakar dengan sekam segar, selain keunggulan sterilitasnya yang lebih baik.


Ayo membuat media tanam tabulampot

Siapkan 3 bahan utama penyusun media tanam, yaitu : tanah, pupuk kandang, dan sekam segar. Perbandingan volume 1:1:1 (bukan perbandingan berat). Perbandingan volume tanah adalah 1 bagian karena pada contoh foto di atas digunakan tanah sedang dengan komposisi fraksi lempung, debu, dan pasir yang seimbang. Tanah yang digunakan pada contoh di atas adalah tanah jenis Andosol dari lereng gunung Merbabu, Jawa Tengah.

Jangan lupa untuk menambahkan sedikit kapur dolomit atau kapur pertanian (sebanyak 2 sendok teh) untuk menjaga pH tanah sekaligus memberikan asupan kalsium yang baik bagi proses pertunasan tanaman buah yang baru dipindah ke dalam pot, serta sedikit insektisida berbahan aktif carbofuran (Furadan/Currater) sebagai bahan untuk mensterilkan tanah dari hama-hama tanah, khususnya cacing nematoda. Dosis yang digunakan adalah 1/2 sendok teh untuk media tanam sebanyak 25-30 liter
 



Aduk semua bahan agar bercampur dengan sempurna dan tambahkan sedikit air agar campuran media tanam menjadi lebih mudah dan kompak

Anjuran komposisi untuk pembuatan media tanam adalah sebagai berikut :

1. Jika tanah yang digunakan tergolong tanah berat dengan kandungan fraksi lempung yang tinggi sehingga bersifat sangat liat, maka anjuran komposisi media tanamnya adalah 1 bagian tanah dicampur dengan 1 bagian pupuk kandang (sapi/kambing/kerbau/kelinci) dan 3 bagian sekam segar atau sekam bakar atau kombinasi sekam segar dan sekam bakar (perbandingan volume 1:1:3). Jangan sekali-kali menggunakan abu sekam untuk campuran media tanam karena dalam kondisi jenuh air, kombinasi tanah berat dengan abu sekam akan menghasilkan efek melumpur (seperti lumpur) yang justru mengganggu drainase (pengatusan) air dan aerasi (pengudaraan) dalam media tanam. Tanah berat tergolong tanah yang miskin pori, baik pori makro maupun pori mikro, dan karena kandungan fraksi lempungnya yang tinggi, maka kemampuan ikat airnya sangat tinggi, dengan kata lain, tanah mampu menyimpan air dengan sangat baik disertai dengan drainase (pengatusan) yang buruk. Dalam kondisi seperti ini, pertumbuhan akar akan terhambat akibat adanya penggenangan air dalam tanah. Penambahan pupuk organik bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah agar tanah menjadi lebih remah (crumb) dan akar bisa tumbuh dengan leluasa, sementara penambahan sekam padi bertujuan untuk memperbaiki porositas tanah, menambah jumlah pori makro untuk meneruskan kelebihan air dalam tanah (fungsi pengatusan air) serta menambah jumlah pori mikro untuk menyimpan oksigen (fungsi aerasi atau fungsi pernafasan bagi akar) 



2. Tanah-tanah sedang dengan komposisi fraksi lempung, debu, dan pasir yang seimbang, umumnya relatif ideal dijadikan media tanam tabulampot, namun tetap perlu dimodifikasi agar menjadi lebih ideal untuk digunakan sebagai media tanam dalam jumlah yang terbatas dalam pot agar ideal untuk pertumbuhan akar di bagian bawah serta manifestasi pertumbuhan tanaman yang sehat di bagian atas. Campurkan merata 1 bagian tanah sedang , dengan 0,5 hingga 1 bagian pupuk kandang, dan 1 atau 2 bagian sekam (perbandingan volume 1: 0,5: 1 atau 1:1:2), disesuaikan dengan kebutuhan tanaman yang berbeda antar tanaman yang satu dengan tanaman lainnya. 



3. Tanah dengan fraksi pasir yang dominan, digolongkan sebagai tanah ringan karena mudah diolah, baik itu tanah dalam keadaan basah apalagi dalam keadaan kering. Tanah jenis ini umumnya terdapat di daerah di sekitar gunung berapi yang masih aktif, biasanya miskin akan kandungan bahan organik, strukturnya sangat remah cenderung rapuh, komposisi pori makro yang sangat tinggi dibanding jumlah pori mikronya, sangat mudah meneruskan kelebihan air, dan miskin kandungan unsur hara nitrogen. Karenanya, jika dibuat sebagai media tanam tabulampot, tanah jenis ini harus diperbaiki sifat-sifat fisikanya, sifat kimianya dan sifat biologinya dengan mencampurkan 1 bagian tanah dengan 2 bagian pupuk kandang, dan 1 bagian sekam (perbandingan volume 1:2:1), atau tergantung kebutuhan dilihat dari sumber tanahnya, apakah tanah diperoleh dari daerah yang tergolong subur atau kurang subur. Penambahan bahan organik seperti pupuk kandang sekaligus akan memperbaiki sifat fisika tanah (memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah), sifat kimia (menambah kandungan unsur hara organik makro dan mikro) serta memperbaiki sifat biologinya (meningkatkan jumlah dan jenis mikrobia tanah) 


Ciri utama media tanam yang baik adalah tidak gampang memadat meski telah digunakan dalam kurun waktu cukup lama, dan media seperti ini hanya dapat diperoleh dengan cara memodifikasi media tanam dengan bahan-bahan yang tersedia di sekitar kita dan mudah untuk mendapatkannya. Jika ragu dalam membuat media tanam, khususnya kualitas fisiknya, lakukan tips berikut : 

ambil segenggam media tanam yang telah dibuat dan dalam keadaan lembab (sedikit basah), lalu kepal dengan kuat dalam genggaman tangan. Jika saat genggaman tangan dibuka dan gumpalan media tanam pecah (Jawa : ambyar), itu berarti komposisi media tanam telah ideal secara fisik. Namun jika saat genggaman tangan dibuka dan media tanam tetap berada dalam kondisi menggumpal, berarti diperlukan penambahan sekam segar atau sekam basah dalam jumlah secukupnya agar komposisi ideal media tanam dapat terbentuk sebagaimana telah dicontohkan sebelumnya.   


Penggunaan media tanam tabulampot dengan komposisi yang ideal akan sangat menunjang pertumbuhan akar menjadi lebih optimal, akar dapat tumbuh dengan leluasa karena mendapatkan suplai oksigen dan air dalam jumlah memadai, dan dalam kondisi pertumbuhan optimal tersebut, akar dapat menjalankan fungsinya untuk menyerap air dan hara-hara yang diperlukan dari dalam media tanam untuk disinergikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Untuk konsultasi seputar tabulampot silahkan hubungi nomor di bawah ini:

Telepon : 082248073089
WhatsApp : 085842045609

Cara menanam mangga dalam pot

5 Panduan Tepat Budidaya Tanaman Buah Mangga di dalam Pot Agar Cepat Berbuah Dengan Lebat, Tanpa Mengenal Musim

Tanaman buah mangga dapat dijumpai baik dikota maupun didesa. Tanaman yang satu ini memang sudah sangat familiar dengan masyarakat indonesia, hampir disetiap sudut desa maupun daerah kita selalu berjumpa dengan buah mangga. Tanaman ini sangat terkenal dengan ketahanan terhadap penyakit dan cukup rajin berbuah dan dapat mudah berbuah, bahkan diluar musim. Pada umumnya tanaman ini dapat hidup hingga lebih dari 100 tahun. Pohon mangga berbentuk seperti payung, dengan buah yang dihasilkan berukuran relatif besar dengan bentuk bulat hingga lonjong / memanjang. Bijinya besar gepeng yang diliputi daging buah yang tebal, lunak serta enak dimakan. Buah yang matang ada yang berwarna kuning, kemerahan hingga hijau kebiruan serta beraroma harum. Rasa daging buahnya masam hingga manis. tergantung dengan jenis dan varietasnya. Selain dapat kita nikmati secara langsug ketika matang, buah mangga juga kerap disantap bersama sambal rujak ketika masih muda dengan rasa agak masam dan segar.
Tanaman pemilik nama latin Magifera Indica L. ini dapat tumbuh dengan optimal pada dataran rendah dengan ketinggian < 600 m diatas permukaan air laut. Tanaman ini dapat mencapai tinggi hingga lebih dari 5 meter jika dibudidayakan di lahan. Jika dibudidayakan dengan optimal tanaman buah mangga dapat mulai berbunga dan berbuah umur 3–4 Tahun jika dibudidayakan di Lahan, Ketika di budidayakan di dalam pot (tabulampot) tanaman buah mangga dapat berbuah pada umur 2–3 tahun. Beberapa varietas unggulan tanaman buah mangga yang layak untuk dibudidayakan baik di lahan maupun di dalam pot antara lain : mangga golek, mangga arumanis, mangga manalagi, mangga apel, dan mangga chokanan, mangga irwin, haden, dan kisingtoon, dermayu, ( indramayu), gedong gincu.Budidaya Mangga Tabulampot
Bagi Pecinta tanaman buah mangga, saat ini yang tanaman yang memiliki daging buah yang tebal dan rasa yang manis ini ternyata dapat dibudidayakan di dalam pot juga lho. jadi makin asyik kan?. Bagi anda yang memiliki lahan yang sempit, tabulampot tanaman mangga ini sangat cocok bagi anda, karena tidak memerlukan lahan yang luas, yang terpenting adalah cukup sinar matahari. Yups, tanpa panjang lebar, kami akan memaperkan beberpan panduan tepat budidaya tanaman buah mangga di dalam pot agar rajin berbuah.
Berikut ini Tips cerdas budidaya tanaman buah Mangga di dalam pot agar rajin berbuah :
1. Pemilihan Bibit
 
Dalam rangka budidaya mangga didalam pot sebaiknya memilih bibit mangga yang memiliki sifat genjah atau mudah berbuah, hal ini bertujuan agar anda tidak terlalu lama menunggul tanaman mangga anda berbuah, adapun jenis mangga yang bersifat genjah seperti : mangga chokonan, mangga arumanis dan mangga manalagi. Selian itu, pilihlah bibit mangga yang yang berasal dari hasil cangkok , sambungan susu , dan okulasi.
2. Pemilihan Media Tanam
 Dalam budidaya mangga didalam pot, sebaiknya memilih media tanam yang mempunyai tekstur remah, gembur, agak berbutir dan tentunya kaya akan unsur hara dan juga porous, Usahakan media tanam memiliki berat yang cukup ringan, hal ini bertujuan memudahkan anda apabila hendak dipindahkan. Selain itu, media juga harus bebas dari hama dan penyakit.
Media tanam yang sering dipakai untuk tanaman mangga yang akan ditanam di dalam pot yaitu dengan perbandingan Tanah : Pupuk kandang : Sekam = 2 : 0 : 1 : 1. Bibit tanaman buah yang baik digunakan untuk tabulampot mangga adalah bibit yang diperoleh dari hasil okulasi dan cangkok.
3. Tahap Penanaman Bibit
 Berikut ini tahapan menanam mangga di dalam pot :
  • Siapkan bibit, pilihlah bibit dengan tinggi antara 50 -70 cm dan diameter batang 1–1,5 cm, warna batang hijau tua kecokelatan, serta bentuk batang lurus dan tidak bercabang, warna daun hijau megkilap dan telah membentuk tiga flush dan berumur enam bulan atau lebih.
  • Siapkan pot dengan diameter 60 yang memiliki lubang dasarnya sebagai tempat keluarnya air siraman.
  • Masukkan potonga batu bata atau genteng ke dasar pot dengan ketinggian sekitar 5 cm agar media tanam tidak terbawa bersama air siraman.
  • Isikan media tanam ke dalam pot hingga mendekati bibir pot
  • Lepaskan polibag dengan cara digunting, lalu ditarik perlahan-lahan agar tanaman tidak rusak. Tanah yang yang menempel pada akar tetep dibiarkan ikut masuk ke dalam pot.
  • Masukkan bibit tanaman buah mangga ke dalam pot, kemudian atur posisi hingga tepat.
     tutup bagian yang kosong dengan campuran media tanam hingga mendekati bibir pot
  • Lakukan penyiraman media tanaman sehingga memadat secara alami
  • Biarkan tabulampot mangga berada ditempat yang teduh hingga muncul tunas — tunas baru, kemudian pindahkan ke bagian halaman yang terpapar sinar matahari.
Mangga Tabulampot
4. Tahap Perawatan
 Agar tanaman mangga bisa berbuah dengan optimal tanaman harus mendapatkan perawatan yang intensif yang meliputi penyiraman, penyinaran, penggemburan dan pemupukan.
 a. Penyiraman
 Sebaiknya Penyiranamn dilakukan secara teratur setiap sore hari, terutama awal penanaman dan musim kemarau. Setelah agak dewasa penyiraman dilakukan tiga kali dalm seminggu. Penyiraman hingga media tanam basah, tetapi tidak menggenang dengan penggunaaan gembor atau spingkler agar siraman air dapat merata dan tidak merusak tanaman.
b. Penyiangan dan pengemburan
 Penyiangan dilakukan saan penggemburan dan pemupukan. Gulma dicabut dengan menggunakan tangan atau cangkul. Pengemburan dilakukan pada tanah yang padat pada tanaman asal cangkulan jangan dilakukan terlalu dalam karena dapat merusak akar.
c. Pemangkasan
 Pemangkasan dilakukan saat tanaman setinggi 70–80 cm. Adapun cara pemangkasannya sebagai berikut
  • Pangkas tanaman Tepat pada batas bidang hijau dan coklat untuk merangsang pertumbuhan tunas baru pilih tiga tunas seragam yang tumbuh dari ketiak daun yang berbeda-beda.
  • pangkas sebagian cabang tanaman dan tinggalkan maksimal tiga cabang yang tumbuh sehat dan kekar
  • ulangi pemangkasan batang pokok jika tunas yang tumbuh pada bidang pangkasan hanya satu cabang.
  • Lakukan Pemangkasan berikutnya jika cabang yang dipelihara telah mencapai 70 cm — 80 cm atau 3–6 bulan setelah pemangkasan pertama dan saat tanaman usia produktif.
  • Cabang-cabang atau tunas liar yang tumbuh tidak pada tempatnya ( misalnya dibawah percabangan pertama) harus dibuang. Cabang-cabang air, ranting, atau tunas yang sakit harus dipangkas supaya lingkungan mahkota daun dapat ditembus Sinar matahari. Usahakan tinggi tanaman tidak lebih dari 5–6 meter untuk memudahkan perawatan dan pemanenan.
d. Pemupukan
 Pemupukan tanaman buah mangga tabulampot :
  • Pada Umur Satu bulan setelah tanam : Berikan pupuk NPK ,pupuk organik NASA, Hormonik, dengan komposisi 1:1:1 dengan konsentrasi 10g/liter air. Pemberian pupuk dengan frekuensi 2 minggu sekali. Adapun cara penggunaannya dengan meyiramkan pupuk yang sudah tercampur ke perakaran tanaman buah, volume pemupukan 1–3 liter atau disesuaikan dengan ukuran tanaman.
  • Pada Umur 2 Bulan : Berikan pupuk NPK + Pupuk organik NASA, Hormonik  dengan komposisi 2:1:1 dengan konsentrasi 10g/liter air. Pemberian pupuk dengan frekuensi 2 minggu sekali. Adapun cara penggunaannya dengan meyiramkan pupuk yang sudah tercampur ke perakaran tanaman buah, volume pemupukan 1–3 liter atau disesuaikan dengan ukuran tanaman.
Adapun Pemberian Pupuk kandang dapat dilakukan setiap enam bulan sekali. Penggunaannya untuk penanaman di pot sebanyak lima kilogram per pot, sedangkan penanaman di lahan sebanyak 20 kg per pohon.
5. Tahap Panen
 Masa berbuah tanaman mangga berbeda-beda, jika tanaman mangga berasal dari hasil cangkok biasanya akan berbuah pada umur 2 tahun,  sedangkan mangga hasil sambungan susu akan berbuah pada umur 1 - 2 tahun. Pada panen tahun pertama mungkin hanya sedikit buah yang dihasilkan sekitar 10–15 buah. produski buah akan meningkat seiring pertambah umur. Dalam memanen sebaiknya lakukan pemetikan buah pada sore hari dengan menggunakan pisau dan usahakan jangan sampai terpotong, tercongkel atau jatuh memar.
Tanaman Mangga Tabulampot Berbuah
Tips sukses agar tanaman mangga tabulampot agar cepat berbuah dengan lebat :
  • Tambahkan Zat pengatur tumbuh Paclobutrazol untuk menghentikan pertumbuhan vegetatif dan merangsang pembungaan deng konsentrasi 5–10 cc per liter air yang disiramkan ke pangkal batang.
  • Mengerat kulit pohon secara melingkar selebar 1–2 cm sampai terlihat kayu pohon pada ketinggian 50 cm di atas tanah.
  • Prunning : memangkas daun, cabang, dan ranting hingga pohon gundul tersisa sedikit daun.
  • Pelukaan : melukai kayu dengan mencacah, mengiris kulit kayu kira-kira 3–5 cm dari permukaan tanah.
  • Pengikatan : mengikat pohon dangan kawat agar hasil fotosintesis terhambat tersalurkan oleh pembuluh floem dan terjadi akumulasi karbohidrat di bagian atas tanaman yang akan mendorong pertumbuhan vegetatif ke generatif
  • Streessing air : Tidak menyiram tanah hingga titik layu permanen kemudian menggenangi perakaran dan pangkal batang hingga jenuh air dalam waktu tertentu. Streessing air Dilakukan waktu daun berwarna hijau tua.
Demikianlah informasi panduan tepat budidaya tanaman mangga tabulampot, panduan budidaya ini dapat diterapkan pada berbagai jenis mangga unggulan seperti : mangga golek, mangga arumanis, mangga manalagi, mangga apel, mangga chokanan, mangga irwin, mangga dermayu ( indramayu) dan mangga gedong gincu. Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat dan menambah wawasan anda dalam budidaya tanaman mangga tabulampot. Terima kasih.
Untuk informasi pemesanan bibit mangga untuk tabulampot dan pupuk tabulampot silahkan hubungi nomor :
Telepon :082248073089
WhatsApp: 085842045609

Cara budidaya jambu air dalam pot

6 Panduan Tepat Budidaya Tanaman Buah Jambu Air didalam Pot (Tabulampot) Agar Tumbuh Optimal dan Dapat Berbuah Cepat Serta Lebat

Siapa sich yang tidak kenal dengan buah yang satu ini, Yups inilah BUAH JAMBU AIR. Buah jambu air memang sudah sangat populer dengan rasanya yang manis dan kandungan air yang tinggi. Buah jambu air biasanya berwarna merah, merah hati, putih atau hijau dan berwarna putih pada bagian dalam, mengandung banyak air, serta rasanya ada yang manis, masam dan ada yang sedikit sepat. Selain itu, tanaman buah Jambu air terkenal akan daya adaptasi sangat tinggi. Oleh karena itu, tanaman ini dapat ditanam mulai dataran rendah hingga dataran tinggi. Tanaman ini bersifat genjah sehingga sangat mudah berbuah baik dibudidayakan dilahan maupun di dalam pot. Penampilannya dengan buah yang tumbuh lebat serta berwarna mulai hijau, merah muda hingga merah, hijau tua, putih bersih menarik decak kagum penggermarnya.
Tanaman pemilik nama latin sysygium samarangense L. ini dapat tumbuh optimal pada dataran rendah hingga ketinggian 1.000 m diatas permukaan air laut. Pohoon jambu air dapat tumbuh tinggi hingga mencapai 3 -10 meter. pohon ini memiliki karakteristik dimana batang biasanya bercabang dan bengkok dengan buah seperti buah buni, bentuknya seperti gasing dengan bagian pangkal kecil dan bagian ujung melebar serta biasanya bagian ujung dengan pangkal di pisahkan oleh lekukan. Daunnya berbentuk lebar dengan ujung meruncing saling berhadap-hadapan dua tangkai bersama atau anak ranting. Kanopinya lebar seperti payung sehingga dapat digunakan sebagai peneduh. Jika di budidayakan di lahan, tanaman buah Jambu air dapat mulai berbuah pada umur 2–3 tahun. sedangkan jika dibudidayakan di dalam pot dalam berbuah pada umur 1 tahun. Bunganya berbentuk malai. Buahnya seperti bohlam lampu dengan daging buah lunak serta mengandung banyak air. Rasanya bervariasi mulai manis, masam, sepet dan campuran.
Budidaya Jambi Air Tabulampot
Jambu Air Tabulampot
Sekarang ini banyak sekali para pecinta tanaman buah yang sudah mulai menanam jambu air, bagi anda yang tidak memiliki lahan yang luas untuk menanam jambu air, jambu air tabulampot bisa menjadi solusi tepat bagi anda. Selain sifatnya yang akan cepat berbuah, tanaman jambu air ini juga dapat menjadi tanaman hias yang mampu mempercantik halaman rumah anda. Tabulampot jambu air juga tidak memerlukan perawatan yang ribet, cukup lakukan penyiraman, pemupukan dan mencegah hama penyakit datang menyerang tanaman tersebut. Yups, sebelum memulai bertanam jambu air tabulampot, ada baiknya kita membahas cara untuk menanam jambu air didalam pot.
Berikut ini 3 Tips Sukses Budidaya Tanaman Buah Jambu Air Tabulampot Agar Cepat Berbuah :
1. Pemilihan Bibit
 Dalam menanam budidaya jambu air didalam pot, sebaiknya memilih Bibit jambu air yang berasal dari hasil cangkok atau okulasi bukan dari biji. Pastikan bibit buah jambu air hasil cangkok atau okulasi tersebut berasal dari tanaman induk yang sudah berbuah. Selain iti, Bibit buah jambi air yang hendak ditanam sudah berumur setidaknya 2–3 bulan.
2. Pemilihan Media tanam
 Media tanaman untuk tanaman buah jambu air tabulampot sebaiknya bersifat ringan, dapat menyimpan air, Porous, gembur, dan bebas dari bibit hama penyakit. Berikut ini komposisi media tanam yang dapat digunakan untuk tanaman buah belimbing antara lain : Tanah : Pupuk Kandang : sekam = 2 :1:1.
3. Tahap Penanaman Bibit
 Siapkan bibit yang dipilih dari hasil Okulasi. Umur bibit minimal enam bulan atau lebih dengan tinggi minimal 50 cm dan memiliki dua pasang helai daun.
  • Siapkan pot dengan diameter 60 cm dengan ketinggian 40 cm yang telah dibeli ganjalan kira 10 cm dari tanah.
  • Masukkan pecahan genteng ke dalam pot agar kelebihan air siraman mudah menetes atau keluar dari dasar pot. Masukkan media tanamn ke dalam pot hingga batas 5 cm dari bibir pot. Padatkan dengan cara mengoyang-goyangkan dinding pot, lalu siram hingga cukup basah. Biarkan 2–3 hari agar media tanam dapat mengendap dan stabil. lalu buat lubang tanam tepat di tengah pot.
  • Lepaskan bibit tanaman buah jambu air dengan cara menggunting atau menyobek polibag dengan gunting atau pisau.
  • Masukkan bibit secara perlahan ke dalam lubang tanam.
  • Tutup bibit tanaman buah jambu biji dengan media tanam hingga batas pangkal batang.
  • Siram tanaman dengan air secukupnya hingga media tanam basah.
  • Jika perlu pasang ajir agar tanaman tidak mudah goyah jika tertiup angin
  • Tempatkan tabulampot pada tempat yang teduh hingga muncul tunas-tunas baru.
Pohon Jambu Air Tabulampot
4. Tahap Perawatan
 Tanaman buah jambu air akan tumbuh dengan baik dan mampu menghasilkan buah yang lebat jika dipelihara dengan baik. Oleh karena itu tanaman buah jambu air perlu diberi perlakuan Penyiangan, Penyiaman, Pemupukan, dan pemangkasan.
a. Penyiangan
 Penyiangan dilakukan sebelum pemupukan agar proses pemupukan dapat berjalan dengan lancar karena tanah menjadi gembur dan gulam sudah tidak ada. Penyiangan dilakukan dengan cara membuang gulma menggunakan cangkul.
b. Penyiraman
 Dua minggu Pertama setelah penanaman, tanaman jambu air muda di siram satu kali dalam sehari pada sore hari. Jika sudah cukup besar dan perakarannya dalam, tanaman cukup disiram selang sehari atau dua hari sekali. Penyiranam dilakukan dengan cara menyiramkan air pada seluruh bagian tanaman dan media tanam.
c. Pemupukan
 Pemupukan Jambu air tabulampot dilakukan sebelum dan sesudah berbuah dengan uraian sebagai berikut :
  • Pada Umur Satu bulan setelah tanam : Berikan pupuk NPK mutiara dengan komposisi 25:7:7 dengan konsentrasi 10g/liter air. Pemberian pupuk dengan frekuensi 3 bulan sekali. Adapun cara penggunaannya dengan meyiramkan pupuk yang sudah tercampur ke perakaran tanaman buah, volume pemupukan 1–3 liter atau disesuaikan dengan ukuran tanaman.
  • Pada Umur 3 Bulan : Berikan pupuk mutiara dengan komposisi 16:16:16 dengan konsentrasi 10g/liter air. Pemberian pupuk dengan frekuensi 3 bulan sekali. Adapun cara penggunaannya dengan meyiramkan pupuk yang sudah tercampur ke perakaran tanaman buah, volume pemupukan 1–3 liter atau disesuaikan dengan ukuran tanaman.
Adapun pemberian pupuk kandang dapat dilakukan setiap enam bulan sekali. Penggunaannya untuk penanaman di pot sebanyak lima kilogram per pot, sedangkan penanaman di lahan sebanyak 15 kg per pohon.
d. Pemangkasan
 Pemangkasan jambu air dibedakan menjadi tiga macam :
  • Pemangkasan untuk pembentukan pohon dilakukan setelah mencapai ketinggian 1.5–2 meter dengan memilih tiga atau empat batang utama agar tajuk tanaman rimbun. Pemangkasan cabang lain dilakukan 1 -2 cm dari batang utama sehingga luka bekas pangkasan tidak melukai batang utama.
  • bPemangakasan untuk pemeliharaan, bagian yang dipangkas adalah dahan tua, kering, luka serta tidak sempurna.
  • Pemangakasan Untuk peremajaan dilakukan pada seluruh bagian tanaman yang sudah terlalu tua, tidak berproduksi atau diserang hama dan penyakit.
5. Tips Pengendalian Hama dan Penyakit
 a. Hama Ulat
  • Penyebab : Ulat ( Dasycha inclusa dan Parasa Lepida). Gejala serangan : daun yang dimakan menjadi bolong-bolong dan Ujung tunas dan ujung bunga yang dimakan menjadi buntung.
  • Cara Pengendalian : Semprot ulat dengan Bayrucil 250 EC dan Basudin 60 EC dengan konsentrasi 2cc/liter air
b. Lalat buah pada jambu air
  • Penyebab : Larva lalat buah ( Dacus Dorsalis). Gejala Serangan : Buah yang hampir matang manjadi rontok dan busuk, Jika buah dibelah terdapat ulat atau belatung.
  • Cara Pengendalian : Bungkus buah dengan kantong plastik yang bagian bawahnya diberi lubang agar air tidak menggenang dikantong atau kertas bekas kantong semen saat berukuran sebesar telur puyuh. Semprot tanaman dengan isektisida Thiodan 35 EC atau Supracid 40 EC dengan konsentrasi 2 cc / liter air setiap dua minggu sekali saat uah berukuran sebesar telur puyuh dan di hentikan sekitar satu bulan sebelum dipetik dan yang terakhir kumpulkan dan bakar buah yang jatuh agar larva mati.
c. Serangan Penyakit Busuk ( Kanker batang )
  • Penyebab : Cendawan Phythothora. Gejala Serangan : Daun Menguning dan mengering. Pangkal Batang berwarna kecokelatan atau hitam
  • Cara Pengendalian : Gunakan Fungisida bersifat sistemik Seperti Benlate atau anvil yang ditambahkan sedikit air, kemudian poleskan ke pangkal batang dengan menggunakan kuas.
6. Tahap Panen
 Bibit Tanaman buah Jambu air tabulampot akan mulai berbuah pada umur 1 tahun. Bunganya berbentuk malai. Buah jambu air berbentuk seperti bohlam lampu dengan daging buah lunak serta mengandung banyak air. Rasanya bervariasi mulai manis, masam, sepet dan campuran. Untuk mencegah buah jambu air dari serangan penyakit dan hama sebaiknya lakukan pembungkusan buah, pembungkusan dapat dilkukan dengan menggunakan plastik putih atau plastik khusus pembungkus buah.
jambu air madu dheli Putih Tabulampot
Tips Membuat Tanaman Buah Jambu Air Tabulampot Agar Cepat Berbuah :
  • Perontokan daun setelah tanaman berumur 9 -10 bulan dengan cara buang daun pada tiap ranting pohon.
  • Daun yang di sisakan hanya empat lembar saja yang berada di pucuk pucuknya. Lakukan perontoka saat tanaman buah hambu air sehat dan subur serta kondisi cuaca yan biak.
  • Penyemprotan ZPT setelah pemupukan pertama. Hal tersebut dilakukan dua minggu sekali dengan takaran 2 cc atonik perliter air. Selain disemprotkan ZPT, disemprotkan pembasmi serangga dengan takaran 2 cc per liter air.
Demikianlah informasi tentang 6 Panduan Tepat Budidaya Tanaman Buah Jambu Air di dalam Tabulampot Agar Cepat Berbuah Sepanjang Tahun. Panduan budidaya ini dapat anda terapkan pada varietas jambu air unggulan seperti : Jambu madu deli hijau, jambu citra, jambu delima, jambu kesuma merah, jambu king rose dan masih banyak lagi lainnya. Semoga informasi tersebut mampu menjadi landasan anda yang hendak budidaya tanaman jambu air tabulampot.
Untuk informasi pemesanan bibit jambu air dan pupuk perangsang jambu air silahkan hubungi nomor di bawah ini :
Telepon : 082248073089
WhatsApp : 085842045609

Cara mengatasi lalat buah pada tanaman buah

Cara mengatasi lalat buah pada tanaman buah

Natural Metilat Lem  merupakan  Produk Pertanian perangkap lalat buah  dari  PT NASA Natural Nusantara  berupa lem khusus untuk menanggul...